Riset & Empati

Memahami kesulitan pengguna terkait pendataan risiko energi dan menjembataninya dengan inovasi infrastruktur digital.

Latar Belakang Masalah Eco-Alert (5W1H)

Apa? Rendahnya literasi masyarakat mengenai keamanan energi non-konvensional yang memicu stigma, diperburuk dengan minimnya inovasi layanan infrastruktur digital di lapangan.

Siapa? Masyarakat umum di sekitar proyek instalasi energi, mahasiswa teknik, dan pekerja lapangan.

Dimana? Indonesia, dengan fokus pada area akademik dan permukiman warga dekat instalasi energi.

Kapan? Saat pekerja melakukan sesi pelatihan, atau secara mandiri sebelum warga beraktivitas di area berisiko tinggi.

Mengapa? Akses informasi valid sangat terbatas. Panduan keselamatan yang ada masih menggunakan sistem cetak manual dan penuh jargon teknis.

Bagaimana? Mengembangkan inovasi platform "Eco-Alert", portal mitigasi bahaya yang memadukan simulasi interaktif dengan ruang pelaporan anonim tanpa memerlukan proses login.

Matriks Empati Pengguna (Eco-Alert)

Say (Dikatakan)

"Saya mendukung energi baru, tapi saya takut jika ada kebocoran radiasi nuklir atau ledakan hidrogen karena tidak tahu prosedur amannya."

Think (Dipikirkan)

"Apakah peralihan massal ke energi bersih ini akan langsung membuat tagihan listrik bulanan rumah saya melonjak mahal?"

Do (Dilakukan)

Mahasiswa riset dan pekerja lapangan terpaksa membaca buku SOP tebal yang membosankan sebelum masuk ke dalam laboratorium.

Feel (Dirasakan)

Ketakutan dan kecemasan publik yang dipicu oleh minimnya infrastruktur informasi keselamatan yang ramah diakses orang awam.

Metodologi & Bukti Penelitian Survei

Bukti Lapangan: Hasil kuesioner menunjukkan pesimisme infrastruktur yang tinggi; 92,3% responden menilai jaringan nasional belum siap beralih ke energi terbarukan, dan 46,2% khawatir dengan mahalnya biaya teknologi.

Tanggapan Terhadap Bukti: Merespons ketakutan tersebut, kami berinovasi menciptakan platform web "Eco-Alert" yang 100% gratis, bisa diakses lewat browser (tanpa perlu mengunduh aplikasi), agar dapat mengatasi kesenjangan akses teknologi di daerah rural.

Research with Empathy Worksheet

Analisis terhadap inovasi kompetitor di bidang penyediaan akses energi:

PT Xurya Daya

Menyediakan sistem PLTS atap skala komersial. Kelemahan: Terlalu berfokus pada sektor B2B/Industri raksasa, sehingga inovasi di tingkat rumah tangga tertinggal.

Kementerian ESDM

Pembangunan PLTS komunal desa. Kelemahan: Alat sering terbengkalai dalam 3-5 tahun karena tidak ada warga lokal yang memahami literasi perawatan inverter.

Inspirasi (Kopernik)

Mendistribusikan lampu surya dengan melatih "Ibu Inspirasi". Membuktikan bahwa inovasi model bisnis dan edukasi humanis sama pentingnya dengan distribusi teknologi fisik.